Tuesday, July 4, 2017

Melacak Jejak Amalan Tabarruk Dalam Islam

Praktek Tabarruk kaum Muslimin di depan Pintu Ka'bah, Makkah Al Mukarromah

TABARRUK adalah mencari Berkah, Rahmat, Anugerah dan Kekuatan dari Allah yang terdapat pada sesuatu hal yang secara khusus telah Allah lebihkan dan istimewakan.

Contoh Tabarruk yang di sebut dalam Al Qur'an

Nabi Yakub as bertabarruk dengan gamis Nabi Yusuf as.

"Pergilah kalian dengan membawa gamisku ini, lalu usapkan gamisku itu ke wajah ayahku, nanti dia akan melihat kembali, dan bawalah seluruh keluarga kalian kepadaku."
{QS Yusuf : 93}

Dalam ayat di atas di sebutkan bahwa Nabi Yusuf as meminta saudaranya mengusapkan gamis itu pada kedua mata ayahnya (Nabi Yakub as) yang mengalami kebutaan akibat perpisahan dengan Nabi Yusuf as. Rahmat Allah yang ada pada gamis Nabi Yusuf as turun ke atas mata Nabi Yakub as. Dan dengan berkah gamis Nabi Yusuf as, kedua mata Nabi Yakub as seketika bisa melihat kembali.

Bani Israel bertabarruk dengan Tabut Perjanjian / Tabut Sakinah.

Tabut adalah sebuah peti yang di dalamnya tersimpan segala sesuatu yang berkaitan dengan Keluarga Nabi Musa as dan Keluarga Nabi Harun as. Tabut juga berisi kitab Taurat yang di berikan Nabi Musa as kepada Yosua bin Nun. Bani Israel membawa Tabut itu pada saat perang dengan tujuan untuk bertabarruk, agar datang ketenangan dan pertolongan dari Allah kepada mereka.

"Dan Nabi mereka berkata kepada mereka, 'Sesungguhnya tanda ia akan menjadi Raja adalah kembalinya Tabut kepada kalian, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhan kalian, dan sisa dari peninggalan Keluarga Musa dan Keluarga Harun. Tabut itu di pikul oleh Malaikat. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda yang jelas bagi kalian, jika kalian orang yang beriman."
{QS Al-Baqarah : 248}

Contoh Tabarruk pada zaman Rasulullah saw

  1. Nabi saw pernah memerintahkan kepada para Sahabat untuk bertabarruk terhadap sebuah sumur tempat minumnya Unta Nabi Saleh as. (Al-Jāmi’ li Ahkām Al-Quran, jld 11, hlm 47)
  2. Pada malam pernikahan Sayyidah Fatimah as, setelah berwudhu, Rasulullah saw menyiramkan air bekas wudhunya itu ke atas kepala, wajah dan badan Sayyidah Fatimah as, kemudian Rasulullah saw memohon keberkahan bagi Sayyidah Zahra as dan keturunannya. (Yanabi Al Mawaddah, hlm 174-175 & 196-197)
  3. Imam Ali as mengatakan matanya tidak pernah sakit lagi berkat sentuhan yang di berikan oleh Nabi Muhammad saw pada matanya sewaktu perang Khaibar. (Yanabi Al Mawaddah, hlm 286)
  4. Di riwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw pernah menuangkan air bekas wudhunya kepada salah seorang yang sakit, dan seketika si sakit itu pun sembuh. (Shahih Bukhari, jld 1, hlm 201)
  5. Ibunda Imam Ali as yaitu Fatimah binti Asad sebelum wafatnya meminta agar di kuburkan dengan baju yang di kenakan Nabi Muhammad saw. Beliau hendak bertabarruk dengan baju Nabi Muhammad saw agar terhindar dari kesulitan alam Kubur. Dan riwayat menyebutkan bahwa pada prosesi pemakaman Fatimah binti Asad, Nabi Muhammad saw mengkafaninya dengan baju beliau saw sendiri, dan sebelum jenazah Fatimah binti Asad di masukkan ke dalam liang lahat, Nabi Muhammad saw terlebih dahulu berbaring sejenak di kuburan itu agar dengan Wasilah (Perantaraan) Nabi Muhammad saw, Fatimah binti Asad terhindar dari kesulitan alam Kubur (Al-Mustadrak ‘ala Al-Shahihain jld 10, hlm 375; Jāmi’ Al-Ahādis jld 42, hlm 32; Tafsir Samarqandi jld 2, hlm 255)
  6. Tercatat dalam berbagai kitab hadits bahwa ketika berlangsung perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah saw mencukur rambutnya, para Sahabat mengelilingi Nabi saw dan mengambil setiap helai rambut Nabi saw yang jatuh sebagai bentuk Tabarruk mereka. Khalid bin Walid ketika berperang, bertabarruk dengan ikat kepala yang di dalamnya terdapat beberapa helai rambut Rasul saw dengan harapan memperoleh kemenangan dalam setiap peperangannya. (Fath Al-Bāri, jld 6, hlm 213; Shahih Muslim jld 7, hlm 79; Bihār Al-Anwār jld 17, hlm 32; Subul Al-Hudā wa Al-Rusyād fii Sirah Khair Al ‘Ibād jld 2, hlm 16)
Tabarruk dalam pandangan berbagai Mazhab Islam
  • Mazhab SyiahDalam pandangan para Fuqaha Syiah, Tabarruk adalah amalan yang di bolehkan dan di anjurkan. Sangat di anjurkan bertabarruk dengan nama-nama 14 Ma'sumin (Manusia Suci) dengan menamakan anak-anak dengan nama-nama mereka dan menuliskan nama 14 Ma'sumin pada Kain Kafan. Juga bertabarruk dengan Al Qur'an dengan mengusap tulisannya atau dengan menuliskannya pada Kain Kafan. Dan masih banyak lagi bentuk Tabarruk lainnya yang di anjurkan. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, jld 10, hlm 70-74; Man Lā Yahdhuruhu Al-Faqih hlm 143; Jawāhir Al-Kalām fi Syarh Syarāyi’ Al-Islām jld 4, hlm 225-241 & jld 31, hlm 254; Mukhtalif Al-Syiah fi Ahkām Al-Syari’ah jld 5, hlm 241)
  • Mazhab Hanafi. Ulama Hanafi seperti Syahabuddin Khafaji Hanafi membolehkan bertabarruk dengan mimbar dan kuburan Rasulullah saw namun makruh untuk mengusapkan tangan, mencium dan menempelkan dada ke pusara Rasulullah saw. (Wafā Al-Wafā bi Akhbār Dār Al Musthofa, jld 4, hlm 404)
  • Mazhab Maliki. Ulama Maliki seperti Zarqani Maliki berkeyakinan bahwa tidak ada masalah mencium kuburan Rasulullah saw dengan niat bertabarruk. (Syarh Al-Zarqani ‘ala Al-Mawāhib Al-Laduniyah bi Al-Manh Al-Muhammadiyah jld 8, hlm 315)
  • Mazhab Syafi'i. Para Fuqaha Syafi’i seperti Ramla Syafi’i membolehkan mengusap kuburan Nabi, Wali atau orang Alim, juga membolehkan mencium gerbang pintu masuk kuburan para Nabi, Wali atau orang Alim dengan niat bertabarruk. Muhibbudin Thabari Syafi’i juga membolehkan mengusap kuburan dan menciumnya. (Kanz Al-Mathālib, jld 33, hlm 219)
  • Mazhab Hambali. Imam Ahmad bin Hanbal membolehkan bertabarruk dengan mimbar dan kuburan Rasulullah saw serta menciumnya. (Al-Ilal wa Ma’rifah Al-RIjal, jld 2, hlm 492, No. 3243)
  • Mazhab Wahabi. Sebagian besar Ulama Wahabi meyakini bahwa Tabarruk hanya boleh di lakukan kepada Rasulullah saw dan hanya boleh di lakukan pada masa hidupnya Nabi saw. Tabarruk kepada selain Rasulullah saw apalagi setelah wafatnya Nabi saw, hukumnya adalah Bid'ah, Haram dan Syirik. (Al-Tabarruk Anwā’uhu wa Ahkāmuhu hlm 252, 268, 329, 343, 401; Kasyf Al-Irtiyāb fi Atbā’ Muhammad bin Abdul Wahāb hlm. 341; Al-Bid’ah, jld 2, hlm 193; Ziyārah Al-Qubur jld 1, hlm 31; Al-Tabarruk wa Al-Tawassul wa Sulh Ma’a Al-‘Adu Al-Shahyuni hlm 40; Al-I’tisham jld 2, hlm 8, 310-313; Al-Hukm Al-Jadidah bi Idzā’ah min Qauli Al-Nabi saw Bi’tsa bi Al-Saif baina Yadi Al-Sā’ah hlm 55; Fath Al-Bari, jld 3, hlm 130)

1 comment:

  1. assalamu'alaikum sebelumnya saya mohon ijin untuk ikut belajar..juga merepost tulisan tulisan akang..makasih sebelumnya kang..

    ReplyDelete