Tuesday, July 4, 2017

Mengurai Konsep Syafa'at Dan Tawassul Dalam Islam

Praktek Tawassul kaum Muslimin di depan makam kepala Imam Husein di Mesir 

TAWASSUL adalah seseorang berpegang, berlindung dan memohon SYAFA'AT melalui Sifat dan Nama-Nama Allah atau melalui makhluk-makhluk dan benda-benda serta amalan perbuatan yang memiliki kedudukan tinggi dan mulia di sisi Allah, baik dalam rangka Taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah), dalam rangka agar Taubat di terima Allah atau untuk terjawabnya Do'a dan untuk tercapainya Hajat Duniawi maupun Ukhrawi.

Objek Tawassul adalah seseorang atau sesuatu benda maupun suatu amalan tertentu yang apabila manusia menghubungkan diri kepadanya maka secara otomatis manusia tersebut akan terhubung kepada Allah. Objek Tawassul ini dalam istilah Syar'i di sebut sebagai WASILAH atau PERANTARA.

Yang bisa menjadi Wasilah di antaranya adalah Sifat atau Nama-Nama Allah (Asmaul Husna), Nabi Muhammad saw, Al Qur'an, Ahlul Bait as (Sayyidah Fatimah Az Zahro as dan 12 Imam Ahlul Bait as), Malaikat, Awliya (para Wali / orang-orang Sholeh), para Ulama, orang Mu'min, para Syuhada, dan amalan-amalan wajib dan sunnah.

Tawassul dan Syafa'at sangat erat kaitannya. Karena dengan mengkoneksikan diri kepada Wasilah (Objek Tawassul), akan menjadi sebab datangnya Syafa'at. Sehingga Wasilah (Objek Tawassul) juga di sebut sebagai SYAFI' (penghantar Syafa'at).


Salah satu bagian paling mencekam dari perjalanan ukhrawi umat manusia, di mana pada saat genting itu, Syafa'at akan sangat di butuhkan

Adapun yang di maksud dengan SYAFA'AT adalah : datangnya dari Allah : pertolongan, keselamatan, kebaikan, terangkatnya derajat dan tertolaknya keburukan / bencana baik dalam perkara-perkara duniawi maupun perkara-perkara akhirat.

Konsep Syafa'at, Tawassul dan Tabarruk adalah konsep yang tidak asing dan terbukti ada pada setiap agama samawi (agama langit) yaitu Yahudi, Kristen dan Islam.

Rasulullah saw bersabda :

“3 kelompok di sisi Allah akan memberikan Syafa’atnya kepada para pendosa dan Syafa’at mereka diterima yaitu : para Nabi, para Ulama Agama dan para Syuhada.” 
{Bihārul Anwār, jild 8, hlm 34}

Syafa'at sebenarnya adalah Rahmat Allah yang tidak akan pernah lepas sedetik pun dari setiap orang. Namun terkadang seseorang tidak memiliki kelayakan untuk meraih Syafa'at. Walaupun Syafa'at memang di peruntukkan kepada para pendosa. Namun dari berbagai ayat Al Qur'an dan riwayat-riwayat yang bersumber kepada Ma'sumin (Rasulullah saw dan Ahlul Bait as), dapat di simpulkan bahwa ada beberapa kelompok manusia yang akan terhalangi dari memperoleh Syafa'at yaitu :

  1. Orang Kafir dan Musyrik.
  2. Pelaku Kezoliman.
  3. Pembenci Keluarga Nabi Muhammad saw.
  4. Orang yang menyakiti Dzurriah (keturunan Nabi Muhammad saw).
  5. Para pengingkar Syafa'at (orang yang tidak mempercayai adanya Syafa'at).
  6. Para pengkhianat.
  7. Para peremeh Sholat.
  8. Para pengingkar kepemimpinan Imam Ali as dan para Imam as.
  9. Kaum Munafiqin.
  10. Orang yang meninggalkan Sholat.
(Ma’ad dar Qur’an, jild 2, hlm 145)

Allah adalah Dzat Yang Maha Pengasih. Pada Yaumul Qiyamah nanti, setelah semua Syafi' (pemberi Syafa'at) dengan izin Allah memberikan Syafa’at mereka, akan ada banyak sekali orang-orang, yang bahkan tidak mendapatkan Syafa’at para Syafi'. Mereka akan tercakup dalam Syafa’at dan Rahmat Allah swt. Olehnya itu, jangan pernah berputus asa dari Rahmat Allah.

Adapun para Syafi' yang bisa memberikan Syafa'at dengan izin Allah adalah sebagai berikut :

  1. Rasulullah saw. Syafa'at Rasulullah saw adalah Syafa'at Qubro yang dalam berbagai riwayat di sebutkan bahwa Syafa'at Nabi saw akan menjangkau hingga pelaku dosa-dosa besar dari kalangan Mu'minin dan Mu'minat.
  2. Amirul Mu'minin Imam Ali bin Abi Tholib as.
  3. Para Imam Ma'sum Ahlul Bait as.
  4. Sayyidah Fatimah Az Zahro as.
  5. Al Qur'anul Kariim.
  6. Para Nabi dan Para Washi.
  7. Para Malaikat.
  8. Para Ulama.
  9. Para Syuhada.
Oleh sebab itu para Syafi' (penghantar Syafa'at) adalah juga Wasilah (Objek Tawassul). Mengkoneksikan diri kepada Wasilah (Objek Tawassul), akan menjadi sebab datangnya Syafa'at.
(QS. Al-Anbiya’: 28; Ilmul Yaqin, jild 2, hlm 1325; Shahih Bukhari, jild 4, kitab Tauhid, bab 24, hlm 392, h 7439; Bihar, jild 8, hlm. 362; Sunan Ibn Majah, jild 2, hlm 724; Qurb Al-Asnad, hlm. 64)

Al-Qur’an menganjurkan orang-orang Mu'min untuk bertawassul, ayat yang paling jelas tentang Tawassul ada dalam Surah Al Maidah ayat 35, di mana Allah secara gamblang memerintahkan orang-orang beriman yang apabila mereka ingin mendekatkan diri mereka kepada Allah, maka harus mencari Wasilah (Perantara / Objek Tawassul). Allah berfirman :

“Wahai orang – orang yang beriman. Bertakwalah kepada Allah dan carilah WASILAH untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu beruntung.” 
{QS.Al Maidah : 35}

Dalam Surah An-Nisa’ ayat 64, di anjurkan kepada para pendosa agar pergi mengunjungi Rasulullah saw dan memohon kepada Nabi saw agar memintakan ampunan untuk mereka sampai datang ampunan Allah untuk mereka. Allah berfirman :

"Dan Kami tidak mengutus seorang Rosul melainkan untuk di ta'ati dengan seizin Allah. Sungguh, sekiranya mereka setelah menzolimi diri mereka (berbuat Dosa) datang kepadamu (Ya Muhammad), lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rosul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."
{QS.An Nisa : 64}

Ketika saudara-saudara Nabi Yusuf as menyesali perbuatannya, mereka tidak langsung memohon ampunan kepada Allah, tetapi mereka memohon ampunan Allah dengan bertawassul kepada ayah mereka yaitu Nabi Yakub as sebagai Wasilah (Perantara) datangnya pengampunan mereka. Allah berfirman :

“Mereka berkata; Wahai ayah kami, mohonkanlah ampunan untuk kami atas dosa – dosa kami, sungguh kami adalah orang yang bersalah. Dia (Yakub) berkata; Aku akan memohonkan ampunan untuk kalian kepada Tuhanku. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
{QS.Yusuf : 97 – 98}

Perhatikan sikap Nabi Yakub as dalam ayat ini, beliau as sama sekali tidak menegur sikap anak – anaknya itu (yakni dengan menjadikan Nabi Yakub sebagai Wasilah / Perantara), beliau as malah menjanjikan bahwa Allah akan mengampuni mereka.

Sayyidah Fatimah Az Zahro as berkata :

"Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, memerlukan Wasilah (Perantara) untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah. Dan kami (Ahlul Bait Nabi Muhammad saw) adalah Wasilah Allah di antara semua makhluk-Nya."
(Balagatun Al-Nisa, hal 14, Syarh Nahj Al-Balagah, juz 2. hal. 267)

Contoh Tawassul pada zaman Rasulullah saw

Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab Musnadnya juz 4 hal.138 dari Utsman bin Hunaif meriwayatkan sebagai berikut :

“Seorang lelaki buta datang menemui Rasulullah saw dan berkata : Mataku buta, aku mohon agar engkau mendoakanku supaya Allah menyembuhkanku. Nabi Muhammad saw lalu berkata Ambillah air wudhu dan lakukan shalat 2 raka'at lalu berdoa seperti ini; “ Ya Allah aku memohon dan menghadap kepada-Mu melalui WASILAH (Perantara) Nabi-Mu Muhammad saw, sebagai Nabi yang penuh rasa kasih. Ya Muhammad, melalui Wasilahmu (Perantaraanmu) aku menghadap Allah agar Allah menyembuhkan penglihatanku. Ya Allah, jadikanlah beliau (Nabi Muhammad saw) sebagai pemberi Syafa'atku.” Nabi Muhammad saw menambahkan, Dan sekiranya engkau memiliki hajat – hajat yang lain, maka lakukanlah hal yang sama.”

Riwayat ini telah disepakati para ahli Hadits, Hakim Nisyaburi dalam kitab Mustadrak juz 1 hal.313, setelah menukil hadis ini menyatakan bahwa hadits ini shahih. Ibnu Majah menukil dari Abu Ishak berkata :”Ini riwayat shahih”. Tirmidzi dalam kitab Abwabul Ad’iyah juga menyatakan bahwa Hadits ini shahih, begitu juga dalam kitab Tawassul ila Haqiqat Tawassul, beliau berkata :”Tidak diragukan lagi, hadis ini shahih dan masyhur.”

Dari riwayat ini, sangat jelas di perbolehkannya bertawassul dengan Rasulullah saw untuk memenuhi segala hajat / kebutuhan manusia.

Contoh Tawassul di zaman sesudah Rasulullah saw

Dalam Shahih Al-Bukhori. Hadis 559, di riwayatkan oleh Anas : Tatkala kekeringan melanda, Khalifah Umar bin Khattab sering beristisqa (meminta kepada Allah agar di turunkan hujan) melalui paman Nabi saw yaitu Abbas bin Abdul Mutholib. Umar berkata :
”Ya Allah, di zaman Rasulullah saw kami bertawassul kepada-Mu dan Engkau menurunkan hujan. Sekarang kami bertawassul melalui paman Nabi saw, kenyangkanlah kami dengan air.” Maka hujan pun turun kepada mereka.

Contoh Lainnya Tawassul di zaman sesudah Rasulullah saw

Thabrani, dalam kitabnya Al-Mu’jam As-Saghir, meriwayatkan dari Utsman bin Hunaif bahwa ada seorang lelaki yang mengunjungi Khalifah Utsman bin Affan berulang kali untuk mendapatkan sesuatu yang ia butuhkan. Tetapi Khalifah Utsman belum memperhatikan kebutuhannya tersebut, sampai akhirnya lelaki itu bertemu dengan Ibnu Hunaif dan mengeluhkan persoalannya. Peristiwa ini terjadi setelah Nabi Muhammad saw wafat dan setelah kekhalifahan Abu Bakar dan Umar.

Utsman bin Hunaif, kemudian berkata : Berwudhulah, lalu pergi ke Masjid. Lakukanlah sholat 2 rakaat dan ucapkan doa ini “Ya Allah. Aku memohon kepada-Mu dan aku menghadap-Mu melalui Rosul kami, Muhammad Rahmat bagi alam semesta. Ya Muhammad, aku minta tolong kepadamu agar engkau sampaikan kepada Tuhanku agar Dia mengabulkan hajatku.” lalu sebutkanlah hajatmu. Setelah itu temuilah aku, agar aku bisa mengantarkanmu menemui Khalifah Utsman. Lelaki itu pun pergi melakukan semua itu. Kemudian ia langsung menuju pintu rumah Khalifah Utsman. Seorang penjaga menggandeng tangannya dan membawanya kepada Khalifah Utsman bin Affan lalu mendudukannya pada sebuah bantal di sisinya.

Khalifah Utsman berkata “Apa keperluanmu ?” Lalu lelaki itu menyebutkan apa saja yang ia butuhkan dan Khalifah Utsman segera memenuhi kebutuhannya seraya berkata “Sungguh aku tidak ingat keperluanmu hingga tadi. Apapun yang engkau butuhkan, sebutkan saja.” tambahnya.

Setelah bertemu Khalifah Utsman bin Affan, lalu lelaki itu pergi menjumpai Utsman bin Hunaif dan berkata kepadanya “Semoga Allah membalas kebaikanmu. Ia (Khalifah Utsman) tidak memperhatikan kebutuhanku atau pun memperdulikannya sampai engkau berbicara padanya."

Utsman bin Hunaif menjawab “Demi Allah. Aku belum berbicara padanya (pada Khalifah Utsman) namun dulu aku pernah melihat seorang lelaki buta menemui Rasulullah saw dan mengeluhkan kebutaannya. Nabi Muhammad saw berkata “Tidakkah engkau dapat bertahan dengan keadaanmu ?” dan lelaki itu menjawab “Ya Rasulullah, aku tidak memiliki siapapun untuk menjadi penuntun jalanku dan ini sangat menyulitkanku.” Rasulullah saw bersabda padanya “ Pergilah berwudhu dan lakukan sholat 2 raka'at. Lalu berdo’alah dan mohonlah hajatmu.” Ibnu Hunaif melanjutkan. “Demi Allah, kami pergi dan belum sempat berbicara lama ketika lelaki itu kembali seolah – olah belum pernah terjadi sesuatu apapun kepadanya.“ (Kebutaannya sembuh dan melihat lagi).

Bertawassul juga bisa melalui ketaatan dan amal sholeh. Contohnya pada peristiwa 3 orang yang terkurung oleh batu besar di sebuah gua. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya (jilid 3, No. 418).

Dalam berbagai riwayat dari jalur Ahlul Bait di sebutkan beberapa amalan yang bisa menjadi Wasilah (Perantara / Objek Tawassul) di antaranya adalah :
  1. Keimanan yang teguh kepada Allah Yang Maha Esa dan Nabi Muhammad saw.
  2. Jihad Fii Sabilillah.
  3. Ikhlas.
  4. Sholat.
  5. Zakat.
  6. Puasa Bulan Ramadhan.
  7. Haji dan Umroh.
  8. Silaturahmi.
  9. Sedekah baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi.
  10. Setiap perbuatan baik dan kesholehan.

(QS. Al-A’raf:180; QS. Al Hasyr: 10; QS. An Nisa’:64; Nahjul Balaghah, Khutbah ke 110; Biharul Anwar, juz 24, hal. 84; Shahifah Sajadiyah, Do’a ke 42)

Dan sebagai penutup, kami kutipkan perkataan dari Taqiyuddin Sabaki, seorang Ulama Ahlus Sunnah bermazhab Syafi’i dalam kitabnya yang berjudul “Syifa Al-Saqam” beliau berkata :

“Tawassul, Istighotsah dan Tasyaffu’ (memohon Syafa'at) kepada Allah melalui Nabi Muhammad saw merupakan hal yang di bolehkan dan di anjurkan. Perkara ini di bolehkan karena merupakan suatu hal yang masyhur di ketahui orang yang beragama dan ma’ruf sebagai hal yang di lakukan oleh para Nabi, Rosul, Salafus Sholihin, Ulama dan kaum awam dari umat Islam. Dan agama-agama lainnya pun tidak mengingkarinya, dan tidak pernah sekalipun terdengar seseorang mengingkarinya dari zaman ke zaman, hingga datanglah Ibnu Taimiyah dengan pendapat yang lemah, dia mengeluarkan pendapat baru yang tidak pernah ada di zaman sebelumnya."
(Syifa Al-Saqam Fii Ziyarati Khair Al-Anaam; hal. 160)

No comments:

Post a Comment